Sekelebat Makna

Artikel-Artikel Tugas Weny

20 Agustus 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sport Psychology as an instance of Ecological Psychology
KENNETH R. HAMMOND* and ROBERT A.BATEMAN**

* Professor Emeritus, University of Colorado, USA
** Tennis Professional, Boulder, Colorado, USA

While the vast majority of publications in sport psychology look inward, in this paper we look outward to examine the relationship of the athlete to her environment. We describe the theoretical foundations and methodological implications of Egon Brunswik’s “probabilistic functionalism” and contrast that with the dominant theory and method of psychological research, namely the “rule of one variable”. We explain the importance of Brunswik’s concept of “representative design” if sport psychologists want to generalize their results from their studies to the competitive environment. We then use examples from the sport of tennis to show how probabilistic functionalism and representative design can be used in studying and training athletes.

Psikologi Keolahragaan sebagai Sebuah Contoh Psikologi Ekologis
KENNETH R. HAMMOND* dan ROBERT A.BATEMAN**

* Professor Emeritus, University of Colorado, USA
** Petenis Profesional, Boulder, Colorado, USA

Ketika kebanyakan publikasi psikologi keolahragaan menyelidiki ruang lingkup dalam bidang keilmuannya sendiri, paparan ini memandang ke luar ruang lingkup tersebut untuk menyelidiki hubungan antara atlet dan lingkungannya. Kami mendeskripsikan fondasi-fondasi teoritis dan penerapan-penerapan metodologis dari “fungsionalisme probabilistik” (probabilistic functionalism) Egon Brunswik dan membandingkannya dengan teori dan metodologi dominan riset psikologi, yang bernama “aturan dengan satu variabel(ubahan)” (rule of one variable). Kami menjelaskan pentingnya konsep “desain representatif” (representative design) Brunswik jika para pakar psikologi keolahragaan ingin menggeneralisasikan hasil penelitiannya ke dalam lingkungan kompetitif. Maka dari itu kami memakai contoh-contoh dari olahraga tenis untuk memperlihatkan bagaimana fungsionalisme probabilistik dan desain representatif dapat dipergunakan dalam mempelajari dan melatih para atlet.
________________________________________

Sport in the perspective of Barkerian Psychological ecology
GERHARD KAMINSKI

University of Tuebingen, Germany

The first part of this paper gives an overview of (Barkerian) psychological ecology, its origin, its classical research tradition, and its further developments up to the present. Roger G. Barker aspired to complement (mainly) experimental psychology by establishing a psychological ecology modeled on biological ecology. In a field station (1947-1972) his research group applied two essentially different approaches of “naturalistic” methodology aimed at describing and analysing people’s everyday behaviour in a small rural town. – How could this research perspective and tradition be relevant to sport psychology? The second part of the paper tries to answer these questions, primarily by attempting to locate Barkerian psychological ecology within the network of sport sciences. Reflecting on one of sport psychology’s major tasks (producing “if-then-knowledge” aimed at improving sport performance) reveals that psychological ecology’s relevance has a fundamentally different emphasis. The analysis of various examples demonstrates how this peculiar kind of relevance can be utilised.

Olahraga dalam Sudut Pandang Ekologi Psikologis Barkerian
GERHARD KAMINSKI

University of Tuebingen, Germany
Bagian awal paparan ini memberikan sebuah gambaran mengenai ekologi psikologis (Barkerian), asal muasalnya, tradisi penelitian klasiknya, dan perkembangan mutakhirnya hingga saat ini. Roger G Barker beusaha terutama untuk melengkapi psikologi eksperimental dengan cara membentuk sebuah ekologi psikologis yang mengambil model ekologi biologis. Dalam suatu tempat penelitian (1947-1972) grup penelitinya memakai dua pendekatan metodologi naturalis (naturalistic) yang pada dasarnya berbeda yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa perilaku keseharian masyarakat di sebuah lokasi kecil di pedesaan. – Bagaimana bisa sudut pandang dan tradisi riset ini menjadi relevan dengan psikologi keolahragaan? Bagian kedua dari paparan ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut ini, terutama berusaha menempatkan ekologi psikologis Barkerian dalam ruang lingkup sains keolahragaan (sport science). Bercermin pada salah satu dari tugas utama psikologi keolahragaan (menciptakan pengetahuan “jika…-maka…” (if-then-knowledge) yang bertujuan untuk meningkatkan performa olahraga) mengungkap bahwa relevansi ekologi psikologis memiliki penekanan yang pada dasarnya berbeda. Analisa dari berbagai macam contoh memperlihatkan bagaimana relevansi yang tak lazim ini dapat dipergunakan.

http://www.ijsp-online.com/content/abstracts/abstract4001.php#c02
Retrieved on August 20 2009. (RI).

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Twilight

9 Mei 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Novel pertama dari tetralogi karya Stephenie Meyer ini telah difilmkan di bawah arahan sutradara Catherine Hardwicks. Semula film ini diprediksi tidak akan booming di pasaran karena image Robert Pattinson dianggap tidak akan menyamai pesona sang vampir rupawan Edward Cullen di novel aslinya. Terbukti, prediksi ini salah total. Robert Pattinson justru secara luar biasa mampu membuat karakter Edward Cullen merasuki dirinya dan dalam waktu bersamaan menjadikan dirinya sebagai figur idola baru para remaja. Film yang dibintangi Kristen Stewart ini bertutur tentang kisah cinta klasik dua dunia, manusia dan vampir, yang tak pernah dapat disatukan karena takdir. Perjalanan hidup melawan takdir inilah yang membumbui kisah cinta Edward Cullen (Robert Pattinson) dan Bella Swan (Kristen Stewart).
twilight
Dikisahkan, dalam buku pertama tetralogi peraih New York Times’ Editor Choice ini, Edward sang vampir misterius yang memiliki kemampuan supranatural membaca pikiran makhluk lain tak mampu menembus ke dalam pikiran Bella Swan. Keingintahuannya pada sosok Bella Swan menyeretnya masuk ke dalam perangkap cinta terlarang antara makhluk abadi dan insan fana yang bernama manusia. Meskipun Edward dan Bella pada akhirnya saling jatuh hati, namun mereka tetap tak dapat dipersatukan karena Edward tak pernah mau untuk membunuh Bella dan menjadikan gadis yang dicintainya itu sebagai seekor makhluk haus darah seperti dirinya. Keberadaan Bella bersama sang vampir yang cool ini menarik makhluk sejenis Edward untuk memburu Bella. James(Cam Gigandet), Victoria(Rachelle Refevle), dan Laurent(Edi Gathegi); tiga vampir ganas pemangsa manusia mengejar Bella yang tahu rahasia gelap tentang keberadaan para makhluk abadi itu di dunia. Edward dan keluarganya yang terdiri dari para vampir vegetarian (tidak lagi menghisap darah manusia) berusaha menyelamatkan si malang Bella dari buruan ketiga vampir licik itu.
Film ini meskipun cukup laku di pasaran, masih tetap memiliki sedikit nilai minus: akhir cerita yang terlalu gampang untuk ditebak. Coba saja Anda tebak apa yang terjadi pada Bella di akhir cerita, demikian juga tebaklah bagaimana nasib ketiga vampir yang memburunya. Sudah pasti Anda akan mendapati akhir yang sama membahagiakannya dengan resolusi cerita klasik Putri Cinderella: sebuah happy ending!
Bagaimanapun, film ini cukup layak tonton karena Stephenie Meyer berhasil memoles cerita roman picisan standar antara dua makhluk beda dunia ini dengan berbagai konflik dan hal-hal yang sedikit agak “tak terduga” di dalamnya, seperti kulit vampir yang bercahaya ketika ertimpa cahaya matahari dan bukannya hancur lebur jadi debu karena terpaan sinar mentari, sebagaimana versi asli tentang sang pangeran kegelapan dalam buku Dracula karangan Bram Stocker. Selain itu, Steph juga lihai dalam menyesuaikan setting kisah ini dengan dunia remaja. Ia berhasil meminimalisir dan memodifikasi kesan “jadul” dalam kisah klasik sang nosferatu. Kalau harus menilai, saya berikan tiga dari lima bintang untuk film ini.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Resensi
Ditandai: , , ,